^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5


Unggul

Kompetitif

Profesional

Melayani dengan Sepenuh Hati

Perpustakaan FITK

Get Adobe Flash player

Religiusitas Sastra dan Spiritualitas Cinta Rabi’ah al-Adawiyah

Dimuat dalam Majalah Swara Rahima, Edisi 26, 2009

Oleh Muhbib Abdul Wahab

 

 

Banyak kalangan masyarakat beranggapan, selain kurang akalnya perempuan  juga memiliki kekurangan dari sisi agamanya. Namun, selain karena hadis mengenai isu tersebut dapat dikategorikan dha’if (lemah), kehadiran sosok perempuan yang satu ini membuktikan bahwa semua prasangka itu terbantahkan. Di kalangan sufi, namanya tersohor bahkan mengalahkan para pencari Cinta yang berjenis kelamin laki-laki.

 

Adalah Rabi’ah al-Adawiyah (100-185 H/801 M), sufi perempuan terbesar, sekaligus kontroversial yang pernah dilahirkan dari “rahim” peradaban Islam. Disebut demikian karena warisan spiritualitasnya tak pernah lekang dimakan zaman. Sastra sufistik dan filsafat cintanya selalu menarik dibincangkan, terutama di era krisis spiritualitas dewasa ini. Ajarannya, “mahabbah” (cinta) atau cinta Ilahi (al-hubb al-Ilahi), masih menjadi “wirid” para pengagum dan pengikutnya, terutama kalangan sufi.

 

 

Ia lahir di Bashrah, sebuah kota di selatan Irak, yang juga melahirkan sufi besar, Hasan al-Bashri. Ayahnya, Ismail al-Adawi meninggal ketika ia belum genap berusia sepuluh tahun. Tak lama setelah itu, ibunya juga menyusul kepergian ayahnya. Ia menjadi yatim piatu yang miskin dan menderita, karena kedua orang tuanya hanya mewariskan sedikit harta. Oleh karena kondisi Irak, khususnya kota Bashrah yang sedang dilanda kelaparan, uang sejumlah enam dirham yang diwarisi dari orang tuanya itupun dirampas perampok. Praktis ia tidak memiliki apa-apa. Ia kemudian hidup “sebatang kara” setelah berpisah dari saudara-saudaranya, dan memilih hidup berkelana.

 

Seperti kebanyakan anak perempuan pada masanya, ia memulai pelajarannya dengan mengaji Alquran, membiasakan diri beribadah, dan shalat tahajjud di malam hari. Ia menjalani hidupnya dalam suasana penuh penderitaan dan kemiskinan. Tidurnya beralaskan dan berbantal batu. Ia tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Dikisahkan, ia banyak menghabiskan waktu dari masjid ke masjid untuk beribadah dan beri’tikaf. Ia menghidupi diri dari kepandaiannya bersyair (berpuisi) dan mendendangkan lagu-lagu spiritual.

 

Di keheningan malam yang syahdu, Rabi’ah merasakan kegetiran perjalanan hidupnya, antara lain akibat kemiskinan dan statusnya sebagai hamba sahaya. Ia pun bersyair:

    <p>Tuhanku,</p><p>    Engkau Mahatahu</p><p>    Hatiku merindukan ketaatan kepada-Mu.</p><p>    Cahaya mataku selalu dalam pengabdian kepada-Mu.</p><p>    Kalau saja segala urusan dalam genggamanku,</p><p>    niscaya tak sekejap pun aku berhenti bermunajat kepada-Mu</p><p>    Akan tetapi, Kau biarkan aku dalam “kasih sayang” hamba-Mu</p><p>    yang berlaku kasar dan keras kepadaku.</p>

 

Munajat Cinta     

 

Rabi’ah tenggelam dalam kesadaran akan kedekatannya dengan Tuhan. Ketika sakit, ia berkata kepada seseorang yang menanyakan tentang sakitnya. “Demi Allah, aku tak merasa sakit lantaran surga telah ditampakkan bagiku, sedangkan aku merindukannya dalam hati, dan aku merasa Tuhanku cemburu kepadaku, lantas mencelaku. Dia-lah yang dapat membuatku bahagia”. Kesadaran spiritual seperti inilah yang dapat menghiasi hatinya untuk selalu bermunajat cinta.

 

 

Bagi Rabi’ah, kegetiran hidup merupakan bagian dari spiritualisasi diri menuju cinta Ilahi. Sebab itu, perlakuan kasar dan kekerasan yang dialaminya ketika jadi budak tidak menghalanginya mengekspresikan hal itu sebagai “kasih sayang”. Dalam ujian hidup yang berat justru kerinduan dan munajat cinta kepada Tuhan tidak pernah padam. Hidup, menurutnya, memang harus dimaknai dengan cinta, bukan dirasakan sebagai duka lara. Dalam duka lara itu ia pun berkarya sastra. Inilah bait-bait munajat cintanya kepada Sang Pencipta:

    <p>Tuhanku,</p><p>    Aku mendamba-Mu</p><p>    akan kujalani setiap duka dan lara</p><p>    tetapi ada siksa yang jauh lebih pedih dari siksa</p><p>    yang selama ini menyiksa jiwa</p><p>    yang memutus tali kesabaran dalam diriku</p><p>    Aku pun selalu diliputi kebimbingan</p><p>    Apakah Engkau meridhaiku?</p>    Itulah yang menjadi tujuan hidupku.

 

Perilaku zuhud (asketik) yang dijalani Rabi’ah semakin membuatnya menemukan makna cinta Ilahi. Menurutnya, cinta hakiki adalah cinta Ilahi. Cinta ini abadi, dan selalu menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam berekspresi dan berkreasi. Cinta Ilahi adalah cinta tanpa batas sekaligus menembus batas: batas kemampuan indrawi, batas ruang-waktu, batas kebahagiaan duniawi, hingga batas “intim” dengan Sang Pencipta. Cinta Ilahi mengantarkannya pada kasyf (penyingkapan tabir) rahasia Ilahi. Baginya, “bermesraan” dengan Sang Pencipta tidak hanya jadi penawar jiwa yang gundah gulana, tapi juga merupakan gerbang menuju kebahagiaan hakiki.

 

Menolak yang Berbau Dunia

 

Oleh sebab cinta Ilahi yang tanpa batas, Rabi’ah pun menampik tawaran gubernur Bashrah saat itu yang memberi harta berlimpah padanya. Tawaran untuk menikah dengan lelaki shalih, kaya, tampan, dan berstatus sosial tinggi juga ditolaknya. Dalam banyak riwayat, Rabi’ah memang tidak menikah hingga akhir hayatnya.

 

Secara kritis Rabi’ah mempertanyakan soal kesanggupan lelaki dan perempuan mengendalikan hawa nafsu. Dikisahkan seorang sufi bernama Ibrahim bin Adham mendatanginya untuk melamarnya.

 

Rabi’ah lalu bertanya: “Berapa syahwat yang dimiliki lelaki seperti dirimu?” Ibrahim menjawab: “Laki-laki memiliki sembilan akal dan satu syahwat”. Rabi’ah bertanya lagi: “Lalu berapa syahwat yang dimiliki perempuan seperti diriku?” Ibrahim dengan mudah menjawab: “Perempuan memiliki satu akal dan sembilan syahwat”. Dengan telak Rabi’ah kemudian berkata: “Alangkah lemahnya engkau, hai Ibrahim. Aku yang memiliki sembilan syahwat mampu menahan diri untuk tidak menikah hanya dengan satu akal. Sementara engkau yang hanya punya satu syahwat tak mampu menahan diri meski dengan bantuan sembilan akal”.

 

Bercinta adalah fitrah manusia. Mencintai dan dicintai sesama manusia merupakan hak dan kebutuhan dasarnya. Akan tetapi, cinta kepada sesama itu tidak abadi, penuh dengan nafsu libido, dan tidak selamanya indah dan menenteramkan hati. Cinta yang tidak pernah padam adalah cinta Ilahi, cinta yang tulus dan tidak mengharap apa-apa dari yang dicintainya selain ridha-Nya.

 

<p>Sastra sebagai Media Spiritualisasi</p>

 

 

Mengapreasi karya-karya sastra Rabi’ah, terutama puisi sufistiknya, tampaknya sufi perempuan ini merasa perlu meneguhkan komitmen spiritual untuk mencari kebahagiaan hidup yang hakiki, yaitu dengan mencintai Ilahi sepenuh hati. Spiritualitas cinta Rabi’ah terasa masih cukup aktual dibaca dan diapreasiasi generasi masa kini. Bukan saja karena sastranya yang “merakyat” dan mempesona, tapi pesan-pesan spiritualnya dapat diterjemahkan untuk pengokohan etika personal maupun etika sosial.

 

Munajat cinta yang tulus kepada Sang Kekasih, idealnya dapat membuat manusia selalu menebar kasih sayang terhadap sesama; tidak mudah melakukan tindak kekerasan atas nama apapun; menghargai hak-hak asasi manusia; peduli terhadap kelestarian dan kesehatan lingkungan hidup; menyuarakan kebenaran dan keadilan untuk semua; dan yang lebih penting dari semuanya adalah menyejahterakan umat manusia dalam naungan keteladanan al-Asma’ al-Husna (Nama-nama Terbaik) Allah swt.

 

Jadi, jihad melawan ketidakadilan, kekerasaan dan terorisme, pengrusakan lingkungan, pembelaan hak-hak asasi manusia, dan peningkatan harkat martabat kemanusiaan adalah jihad Rabi’ah melalui sastra sufistiknya. Cinta Ilahi adalah sebuah jihad (dan mujahadah) yang harus melahirkan cinta sesama dalam damai dan saling menyayangi.

 

 

Pengunjung

We have 27 guests and no members online