^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5


Unggul

Kompetitif

Profesional

Melayani dengan Sepenuh Hati

Perpustakaan FITK

Get Adobe Flash player

Laskar Penakluk Sungai
(Dimuat di Radar Bogor, Senin, 4 Mei 2015)

Oleh Jejen Musfah

 

 

 

Anak-anak sekolah berseragam merah putih melintasi sungai dengan cara bergelantungan meniti tambang untuk sekolah bukan hal baru di dunia pendidikan kita. Demi menuntut ilmu, mereka berjuang menaklukan jembatan penyebrangan yang di bawahnya mengalir sungai cukup deras. Mereka mempertaruhkan nyawa!

Potret lainnya adalah perjuangan anak-anak yang tetap semangat pergi ke sekolah meski harus menempuh jarak berkilo-kilo meter, dengan berjalan kaki karena tak ada transportasi umum. Anak-anak di desa lainnya pergi ke sekolah dengan mengayuh perahu kayu. Ada pula yang pergi-pulang sekolah dengan cara duduk di atas mobil, meski penuh resiko karena jalanan berkelok, berlubang, dan penuh bebatuan.

Takdir anak sekolah di desa-desa tak sampai di situ. Di luar sekolah mereka bergelut dengan bahaya, sedangkan di sekolah mereka bersua dengan buruknya prasarana pendidikan seperti ruang kelas sempit, toilet tak terawat, perpustakaan seadanya, tiada Unit Kesehatan Sekolah (UKS), dan tiada laboratorium.

Sebanyak 46 siswa SD dan sepasang suami istri yang sedang boncengan di motor jatuh dan mengalami luka-luka saat melewati jembatan gantung yang menghubungkan antara Kampung Pasir Eurih, Desa Tambak, Kecamatan Cimarga dengan Kampung Sindai, Desa Pajagan, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten (10/3/2015).
Berdasarkan data dari Dinas Bina Marga Kabupaten Lebak, sebanyak 443 jembatan yang tersebar di 28 kecamatan, dalam kondisi baik sebanyak 81 jembatan, kondisi sedang 1 jembatan, sementara itu yang rusak 150 jembatan, rusak ringan 97 jembatan, dan rusak berat 113.

Murid-murid Sekolah Dasar Inpres 6/75 di Desa Hulo, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan harus menyebrangi sungai seluas 20 meter dengan jembatan tali. Jika melewati jalan lain harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer untuk dapat bersekolah.

Inilah kondisi yang menyebabkan guru-guru enggan mengajar di sekolah pedesaan. Akibatnya, sekolah kekurangan guru. Jika punya pilihan sekolah yang lebih baik atau di kota, guru yang tersisa pun kerap tergoda meninggalkan sekolah desa yang fasilitas dan gajinya pun ala kadarnya itu.

Saya yakin masih banyak potret perjuangan siswa Indonesia saat hendak bersekolah. Presiden dan Mendikbud silih berganti, tapi perbaikan mutu pendidikan masih jalan di tempat. Jembatan gantung masih setia mengantar siswa ke sekolah. Indonesia jelas mengalami darurat pendidikan, tetapi siapa peduli?

Pelayan Rakyat
Jembatan rusak tak terjamah perbaikan dan buruknya prasarana dan sarana pendidikan, merupakan potret kegagalan fungsi struktural pendidikan, dari tingkat Provinsi, Kota, Kabupaten, Kecamatan, Desa, hingga sekolah. Bagaimana peran kepala sekolah, pengawas, dan komite sekolah? Mungkinkah cerita laskar penakluk sungai dan laskar pejalan kaki tangguh tak sampai ke meja rapat Camat, Bupati, Gubernur, dan anggota dewan?

Cerita jembatan gantung tak akan ada jika pemimpin daerah dan anggota dewan menjalankan fungsi sebagai pelayan rakyat, bukan pelayan diri sendiri dan kelompoknya. Pada awalnya, setiap calon pemimpin menebar janji bahwa kedudukannya untuk membela kepentingan rakyat. Bukan untuk memperkaya diri, anggota keluarga, dan partai pengusungnya.

Masalahnya, lain dulu lain sekarang. Kepala sekolah dan warga sudah lelah menagih janji Camat, Bupati, atau anggota dewan yang terhormat. Pemimpin sudah ingkar janji. Bahwa perannya adalah menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat, bukan hidup mewah dengan fasilitas serba wah dari dana kas daerah hasil pajak rakyat.

Setelah berada di atas, para pemimpin cenderung tak membumi alias elitis. Lebih fokus pada mobil dan rumah dinas, serta studi banding ke luar negeri. Jembatan gantung, perbaikan jalan desa, dan fasilitas sekolah biar menjadi bahan janji kampanye pada saat musim Pemilu. Toh, rakyat di sini mudah dibohongi dan pelupa.

Cukup dengan amplop berisi Rp 50.000—100.000, mereka akan memilih calon sang penebar rupiah. Calon yang merakyat, kompeten, dan jujur yang tak berani menebar uang menjelang fajar acap kali gagal terpilih sebagai kepala daerah atau anggota dewan perwakilan rakyat.

Pemimpin dan anggota dewan seperti apa yang kita miliki saat ini, yang menyebabkan anak-anak harus mempertaruhkan nyawa setiap hari, demi memilih jalan pintas ke sekolah tujuan, sebab jarak sekolah sangat jauh dari rumah. Ke mana para pemimpin daerah, sehingga untuk hal ini perlu setingkat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang turun tangan meninjau lokasi.

Ke mana pula larinya dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan di sekitar desa yang mestinya dialokasikan untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat sekitar, seperti jembatan gantung dan perbaikan jalan.

Saya sebagai warga Negara biasa pembayar setia pajak tidak mengerti ketika para pemimpin saling melempar tanggung jawab tentang siapa yang berwenang membangun sarana publik ketika persoalan jembatan gantung mencuat dan diperbincangkan masyarakat. Mereka berlindung di balik peraturan, bukan mencari jalan keluar setiap persoalan warga.

Sejatinya, memimpin itu bukan kemampuan menguasai perundangan an sich, tetapi kesanggupan memecahkan problem warga masyarakat, tanpa terhambat sederet aturan yang membelenggu komitmen seorang pemimpin. Pemimpin adalah pemberi solusi, bukan pengikut dan pelaksana aturan apa adanya.

Akhirnya, fasilitas publik seperti jembatan dan jalan adalah cermin kepemimpinan di masing-masing daerah. Pemimpin saat ini perlu kembali ke konstitusi dan hati nurani dalam melaksanakan roda pemerintahannya. Ke depan, dibutuhkan calon-calon pemimpin berjiwa tulus yang mampu mendengar jerikan rakyat bawah dan mau bekerja nyata.

Terpenting adalah masyarakat tidak lagi asal pilih. Masyarakat perlu mengetahui rekam jejak calon pemimpinnya. Pilihan masyarakat didasarkan pada integritas dan kompetensi calon, bukan iming-iming rupiah atau janji-janji yang muluk. Masyarakat perlu belajar dari kinerja pemimpin saat ini, sehingga tidak dicap sebagai masyarakat yang pelupa.

Laskar penakluk sungai dan cerita-cerita laskar lainnya di segala penjuru tanah air tercinta ini tak akan pernah habis dibicarakan. Semoga tidak ada lagi korban berjatuhan karena jembatan putus. Ceritanya berganti dengan kerja gotong-royong masyarakat membangun jembatan kokoh, karena ada pemimpin di depan mereka yang menggerakkan.

Pengunjung

We have 8 guests and no members online